Yogyakarta - Jakarta dengan Bus Safari Dharma Raya Super Executive


      Matahari pagi ini masih belum terlihat saat aku bangun dari tidur lelapku, sensor sarafku segera mengirim sinyal ke otak memberi laporan bahwa suhu udara pagi ini sangat dingin yang membuatku cukup mengigil. Ketika memandang ke sekitar barulah aku sadar bahwa aku sedang berada di kampung halaman orang tuaku di Yogyakarta. Samigaluh, ya itu adalah nama daerah tempat ku berada kali ini.  Desa kecil di kaki Bukit Menoreh ini cukup rutin ku kunjungi, dalam setahun mungkin bisa 3-4 kali seingatku. Setelah dua hari menghadiri acara keluarga, hari ini kami berencana pulang ke rumah di Tangerang. Untuk perjalanan pulang kali ini aku bersama adikku akan menggunakan bus Safari Dharma Raya dengan tiket yang telah kupesan lewat telpon beberapa hari sebelumnya, sedangkan ayahku lebih memilih menggunakan burung besi.

      Waktu telah menunjukkan pukul 07.40 ketika kami meninggalkan rumah pamanku dimana kami menginap selama di kampung halaman. Untuk menuju pusat Kota Yogyakarta kami harus berjalan kaki kurang lebih 1 km untuk menuju jalan raya dan dilanjutkan dengan naik bus mikro 3/4 selama dua jam. Sepanjang perjalanan menuju pusat kota kami disuguhi pemandangan yang sangat indah, kombinasi pohon jati, perkebunan jagung, dan sungai yang jernih dan berbatu di sisi jalan raya benar-benar membuat mata ini sulit mengalihkan pandangannya.

      Setiba di Ngeplang, Sentolo, waktu telah menunjukkan pukul 09.30, padahal pada waktu pesan tiket bus lewat telepon dari Tangerang diberitahukan bahwa tiket harus sudah diambil pukul 10.00 di agen Safari Dharma Raya Tugu. "Ahh gak bakal sempet nih" pikirku, tak pikir panjang ku telpon agen tersebut. "Halo selamat pagi, ini dengan agen OBL Tugu?", "ngih pak, ada yang bisa dibantu?" jawab si penerima telepon. "Hmm gini mas, aku Aditya yang pesen 2 tiket OBL SE ke Kebayoran untuk keberangkatan hari ini, kemarin waktu pesan kan janjinya mau diambil jam 10, ini sekarang saya lagi dalam perjalanan ke sana, mungkin sejam lagi baru sampai, tidak apa-apa ya mas telat?, tiketnya jangan dijual ke orang lain dulu". "Oh ngih mboten nopo-nopo mas, ditunggu ya" balasnya dengan logat jawa. Setelah memastikan tiket pesanan aman ku beranjak menaiki sebuah bus mikro lagi tujuan Wates-Yogya untuk ke Malioboro.

      Sesampainya di Malioboro kami berpisah dengan Ayahku yang akan melanjutkan ke Bandara dengan menumpang bus Trans Jogja. Aku dan Adikku bergegas menelusuri Malioboro-Mangkubumi sambil mencari-cari agen bus Safari Dharma Raya. Lho kok ngak ada sih, pikirku setelah berjalan cukup jauh. Adikku pun ikut komentar "dimana cuy ?" sahutnya, "gak tau gue juga" balasku. Daripada tidak jelas nengok sana-sini akhirnya kutelpon lagi agen itu, dengan cepat penerima telepon memberitahukan bahwa posisinya tepat berada di perempatan. Bergegas kami berjalan ke arah perempatan dan ketemulah agen bus yang kami cari.


      Tiket bus kelas super executive itu kami tebus dengan harga Rp 430.000 untuk dua tiket, cukup mahal sih untuk bus jurusan Yogyakarta - Jakarta, namun dibalik mahalnya harga tiket tentu ada fasilitas lebih yang kita dapat, apa itu? berikut fasilitas yang ditawarkannya,

Operator: Safari Dharma Raya (OBL)
Kelas: Super Executive
Line: Yogyakarta-Magelang-Temanggung-Jakarta (Kb.Lama) PP
Tarif: RP 215.000
Mesin: Mercedes Benz OH 1525
Fasilitas:
-TV
-Leg Rest
-Bantal + Selimut
-Konfigurasi kursi 1-2 (satu kursi di deret kiri dan 2 kursi di deret kanan)
-Total 20 seat, deret kiri 6 baris, deret kanannya 7
-Snack
-Servis makan 1x
-Toilet
-Servis antar sampai rumah dalam kota jakarta dan Jogja

      Selesai mengambil tiket kami berencana ingin mengunjungi Candi Prambanan namun melihat keadaan saat ini telah menunjukan pukul 11.30 dimana pukul 14.30 sudah harus kumpul di Terminal Jombor niat itu terpaksa kami batalkan. Sebagai pengganti kami putuskan untuk wisata ke Keraton saja. Degan menumpang Transjogja kami menuju shelter Malioboro 2 dan melanjutkan dengan berjalan kaki beberapa ratus meter sebelum akhirnya tiba tiba di gerbang Keraton Kesultanan Yogyakarta. Sayangnya hari itu keraton ditutup untuk umum, dengan rasa kecewa kami menuju masjid kauman yang terletak tidak jauh dari keraton untuk sholat dzuhur. Selepas menunaikan ibadah kami beristirahat sejenak di teras masjid yang beratap indah, dimana pada tiap-tiap tiang penyangganya terdapat ukiran-ukiran berwarna merah dan keemasan.


      Pukul 13.30 kami beranjak meninggalkan masjid menuju shelter TransJogja di dekat Taman Pintar. Kursi tunggu di shelter itu kecil saja, hanya muat untuk tiga empat orang dan telah diisi tiga perempuan. Tak enak hati jika harus berdesakan di kursi tunggu itu aku memilih untuk berdiri di sudut dekat tempat lajur keluar shelter, adikku mengikuti. Dari sana pandangan ke berbagai arah nampak luas, tepat di depan ada jalan raya empat lajur, masing-masing dua lajur untuk satu arah. Memalingkan pandangan ke arah depan sisi kanan nampak seorang satpam berjaga mengatur lalu lintas mobil yang keluar dari sebuah gedung sedangkan di depan sisi kiri nampak seniman-seniman ahli lukis memamerkan karya-karya mereka di sepanjang trotoar jalan.

      Kira-kira 20an menit lamanya kami menunggu sampai sebuah mikro bus 3/4 berwarna kuning dan hijau dengan perlahan mendekati shelter tempat kami menunggu. Lantas tak berselang lama petugas yang berjaga di shelter itu menyebutkan beberapa nama tempat yang akan disinggahi bus itu dengan suara yang cukup keras hingga ia merasa yakin kalau semua orang di dalam shelter mungil itu dapat mendengarnya. Diantara beberapa tempat yang disebutkan petugas itu adalah 'Jombor', ketika bus telah berhenti dan mengeluarkan beberapa penumpang kami naik ke dalam bus tersebut. Perjalanan menuju Terminal Jombor tak memerlukan waktu lama, pukul 14.20 kami sudah tiba dan langsung menuju agen perwakilan Bus Safari Dharma Raya yang berada di sudut terminal. Di depan agen itu sesosok bus yang ternyata adalah bus yang nanti akan ku naiki sudah terparkir dengan manis.


Setelah melapor kedatangan kami beranjak keluar dan menyempatkan menyantap semangkuk soto panas di depan agen bus dimana seorang pria yang berusia 50an tahun tebakanku dengan gerobaknya menjajakan soto mienya. Selepas menghabiskan semangkuk soto dengan lahapnya kami beranjak menaiki bus, aku menaruh tasku di tempat penyipanan di bagian atas langit-langit kabin. Sejenak aku duduk di kursiku yang terletak di deret paling depan atau teman-teman dari komunitas pecinta bis umumnya menyebutnya dengan hot seat dan kursi adikku tepat berada di belakangku. Dari tempat dudukku aku dapat meluruskan kakiku yang cukup panjang ke depan tanpa tertekuk, 'wah luas juga nih' pikirku dalam hati. Maklum saja bila menaiki bus dengan kelas executive atau vip kakiku pasti akan tertekuk karena jarak antar kursinya yang cukup rapat. Karena mesin bus yang belum dinyalakan suhu mulai terasa panas, kami memutuskan turun dahulu dan memotret beberapa bus yang lewat di terminal itu.

      Sebuah bus Mustika kelas ekonomi tujuan Semarang dengan sangat kencang memasuki terminal dan menuju jalur keberangkatan diikuti dengan bus Sinar Jaya jurusan Rawamangun di belakangnya. Bus Sinar Jaya dengan model New Travego dengan lampu depan smile berjalan cukup pelan, dari sisi jalan aku dapat melihat stiker bertuliskan Air Suspension di kaca bagian kiri bus, ketika mulai melewatiku kudapati lampu belakang bagian kiri ada bagian yang pecah. Tak lama kemudian dari jauh kulihat sebuah bus berwarna putih dengan gambar pinguin di badan bus hendak memasuki terminal. Bus itu adalah Putra Remaja, setelah berhenti sejenak untuk menaikkan penumpang di agennya ia kembali berjalan dan ketika sadar kalau aku hendak memfotonya sebuah salam diteriakkannya dengan nyaring 'tett...tettt' kira-kira seperti itulah suaranya dan kubalas dengan lambaian tangan.

       Menjelang pukul 3 sore kami beranjak naik ke dalam bus kami karena dari terdengar informasi dari pengeras suara bahwa bus kami akan segera diberangkatnkan. Bus kami akhirnya dengan perlahan meninggalkan tempat parkirnya ke luar terminal dengan membawa empat orang penumpang. Menyusuri jalan raya sepanjang Jombor-Muntilan dengan kecepatan sedang saja. Di beberapa titik sempat terjadi kepadatan antrian kendaraan karena lampu lalu lintas. Bus-bus tujuan Jakarta tak banyak kujumpai sore itu, hanya beberapa Santoso dan Bus Ramayana yang sempat kujumpai. Pukul 15.24 bus melewati gapura raksasa dengan tulisan SELAMAT DATANG DI JAWA TENGAH menandakan kini aku sudah meninggalkan Yogyakarta. Tak lama bus kami melambatkan lajunya karena akan masuk ke Terminal Muntilan, suasana terminal sore itu cukup ramai, jejeran ruko agen bus dengan beberapa calon penumpang yang sedang menunggu busnya dengan mudah dapat ku lihat. Sementara di pelataran parkir bus, di dekat gerbang masuk terminal terdapat tiga unit bus mikro 3/4 yang terparkir dengan terisi penumpang di dalamnya. Bergeser ke lagi ke arah tengah terminal nampak bus Handoyo dan empat bus Ramayana yang sedang menaikkan penumpang di agennya masing-masing. Bus yang kutumpangi tak menaikkan penumpang di sini, hanya sekedar lewat saja.


      Begitu hendak keluar terminal dari jauh nampak sebuah bus dengan warna yang tidak asing karena sering kulihat di Terminal Depok, Jawa Barat, kok bisa ada di sini?. Semakin mendekat ternyata dugaanku benar, di bagian belakang bus itu masih tertempel nama bus MGI yang biasa melayani rute Depok-Sukabumi. Namun setelah bus kami berbelok barulah terlihat dari samping kalau bus itu bagian sampingnya sudah di ganti dengan gambar PO lokal daerah sini. Setelah Terminal Muntilan bus kembali singgah di Terminal Magelang, di sini bus menaikkan dua orang penumpang. Terminal Magelang sore itu cukup sepi, hanya ada beberapa bus ekonomi tujuan Semarang-Jogja yang parkir, tidak sebanding dengan terminal yang cukup luas itu.

      Setelah menaikkan penumpang dan ada beberapa crew bus yang ikut menumpang ke dalam bus ini, entah mau kemana, bus melanjutkan perjalanan ke arah utara. Kondisi lalu lintas Kota Magelang sore itu cukup padat, menjelang masuk ke daerah Secang salah seorang crew bus yang ikut dalam bus ini maju ke depan sambil berbincang-bincang dengan pak supir dan kondekturnya. Dari percakapan-percakapan mereka dalam bahasa jawa ada beberapa kalimat yang bisa kutangkap seperti "arep tuku donat, enak donate nang kono" yang artinya "mau beli donat, donatnya enak di sana". Mendengar kalimat itu membuatku heran, mau beli donat aja jauh sekali pak, sampai harus ke Secang pikirku. Bus berbelok ke kiri tepat di pertigaan Secang setelah sebelumnya menurunkan crew bus yang ku ceritakan tadi. Melihat kondisi jalan yang sangat basah aku bisa menduga telah hujan lebat beberapa waktu lalu di sini dan benar saja bus ku berjalan cukup tersendat karena kendaraan-kendaraan di depannya memperlambat laju karena banjir dari akibat saluran air yang tumpah ke jalanan, waktu itu waktu menunjukkan pukul 16.33.

      Selepas melewati banjir bus terus melaju melewati jalan yang terus menanjak menuju Temanggung. Di suatu pertigaan bus berbelok ke kanan masuk ke Terminal Temanggung, suasanannya sepi sekali, tak ada bus yang kulihat terparkir di sana, hanya sebuah agen bus dengan banner di depannya bertuliskan SANTOSO yang terlihat ramai sekali oleh penumpang yang menunggu busnya datang. Pukul 17.00 bus masuk ke poolnya di Temanggung terlebih dahulu, disini ternyata banyak penumpang yang naik hingga bus yang ku naiki hampir terisi seluruh kursinya. Suasana pool bus Safari Dharma Raya sore itu nampak dipenuhi bus-bus pariwisatanya, barisan bus dengan model Jetbus dengan mudah dapat kulihat dari dalam bus. Persis di depan busku parkir terdapat sebuah ruangan tunggu yang dipenuhi penumpang yang menunggu busnya datang.


Setelah berhenti kurang lebih selama 30 menit akhirnya bus kaembali berjalan dan sebuah bungkusan box berisi sepotong kue dan air mineral gelas dibagikan. Perjalanan ke arah Gringsing, bus dipacu dengan sedang saja, kondisi jalan yang sempit memang tidak memungkinkan untuk berjalan kencang ditambah sesekali bus menghantam jalan yang rusak membuat seluruh kabin bergetar dengan keras. Tak banyak bus-bus lain yang kujumpai selama perjalanan karena memang hanya beberapa operator bus seperti Santoso, Ramayana, dan Handoyo yang melewati jalur ini. Saat melewati daerah Sukorejo, matahari sudah berganti bulan yang terlihat samar-samar tertutup awan, bus berjalan sangat hati-hati karena kondisi penerangan jalan sangat minim sekali ditambah kontur jalan yang meliuk-liuk bak ular dengan belokan yang sangat tajam membuat sesekali bus harus berhenti, antri untuk berbelok di tikungan. Tak sadar karena terbuai oleh gerakan bus yang meliuk-liuk dan suasana sunyi di dalam kabin, bus kami sudah mendekati jalur utama pantai utara Jawa hingga di sebuah pertigaan bus berbelok ke kiri dan tak jauh dari situ berhenti untuk istirahat di rumah makan.

      Tak lama ketika bus yang ku naiki baru saja selesai memarkirkan dirinya di depan rumah makan, kami disambut dengan hujan lebat. Aku dan adikku bergegas turun dari dalam bus dan beranjak ke dalam untuk menikmati servis makan. Selesai makan kami kebingungan karena tidak menemukan mushola, "dimana musholanya cuy?" adikku memulai pembicaraan, "gak tau" jawabku. Aku kemudian mencoba bertanya ke petugas rumah makan dan dijawabnya dengn gerakan tangannya yang menunjuk ke suatu arah, arah itu menunjuk ke sebrang tempatku berdiri saat ini "alamakkk" pikirku saat itu. Tidak ada jalan lain, setelah berdiskusi sejenak dengan adikku bagaimana kita ke sebrang di tengah hujan lebat seperti ini memang jalan satu-satunya adalah menerobos guyuran air dari langit malam itu. Dengan jaket aku menutup kepalaku sampai menutupi setengah badanku dan berlari dengan sekencang-kencangnya menuju ke sebrang. Selesai menunaikan sholat pun kami masih harus kembali menerjang guyuran air hingga jaketku benar-benar basah kuyup sedangkan adikku hanya tersenyum-senyum kecil ketika kami berhasil kembali dari mushola, entah apa yang ada di pikirannya saat itu.

      Sambil menunggu bus kembali berangkat kami hanya berdiri saja di depan teras rumah makan sementara hujan masih mengguyur dengan derasnya, sesekali mata ini tertuju pada bus yang keluar masuk halaman parkir. Waktu itu aku sedang membeli dua botol air mineral ketika salah seorang awak bus yang kunaiki berteriak "super berangkat....yang super berangkat yo". Selepas membayar dua botol air mineral aku beranjak menuju depan bus dimana awak bus yang kunaiki dengan payung cukup besar ditangannya satu-satu mengantarkan penumpang masuk ke dalam bus di tengah guyuran hujan, 'inisiatif yang bagus' pikirku saat itu. Satu demi satu penumpang di antar ke depan pintu bus, hingga giliran adikku telah diantarkan aku masih mengantri. Sesaat sebelum giliranku aku menolehkan kepalaku ke dalam bus, dari luar, kabin bus bagian depan dapat terlihat dengan jelas dan disitu aku mendapati adikku tertawa lebar sambil memandang kepadaku yang melihatnya dari luar. Apa gerangan yang terjadi?  kursi hot seat yang kutempati di ambil alih olehnya, arghh geramnya aku. Saat aku telah masuk ke dalam bus segera ku usir dia agar pindah ke tempat duduknya semula namun dia hanya menjawab "gantian cuy" tolaknya, ia bersikukuh tidak mau pindah dan akhirnya akupun mengalah 'ah kursi idaman para bismania lenyap, opera van pantura gagal kusaksikan malam ini....hiks'.


       Daerah kekuasaan telah jatuh ke tangan adikku, terpaksa pindah ke daerah yang ditinggalkannya, kursi baris ke dua seat single.  Bus akhirnya meninggalkan rumah makan dan mengarungi jalur pantura yang padat malam itu. Dari tempatku duduk kali ini aku masih dapat melihat ke depan namun kepala harus sedikit digeser ke kanan, memang sedikit tidak nyaman. Kali ini yang mengemudikan bus adalah driver 2, rupanya telah terjadi pergantian pengemudi saat istirahat tadi. Pengemudi kali ini cukup cepat melajukan busnya, beberapa bus Kramat Djati dan Ramayana di salipnya dengan mudah di tengah kepadatan lalu lintas. Sayangnya kondisi jalan di jalur pantai utara jawa ini tidak baik, sering kali bus bergetar keras karena jalan yang tidak rata dan bergelombang. Bus yang kunaiki kali ini kurasakan memang cukup nyaman untuk jarak antar kursinya yang luar biasa lega namun ada beberapa poin yang membuatku mengeryitkan dahi seperti bunyi 'gluduk...gluduk' yang cukup keras dari bagian bawah bus, sepertinya sumber suara dari suspensi bus dan bunyi mendecit dari tempat menyimpan barang di atas kepala ketika bus melewati jalan yang tidak rata sedikit mengganggu ketenangan dalam kabin.

      Tanpa sadar ketika sedang asik-asiknya menikmati pemandangan di luar aku tertidur dan terbangun tepat ketika bus melaju di depan gedung DPR/MPR Jakarta, sontak saja aku kaget sambil mendesah 'ahh rugi deh naik bis SE cuma buat tidur'. Pukul 04.30 bus kami tiba di pemberhentian terakhirnya di pool Kebayoran Lama, bagi penumpang bus Super Executive sudah disediakan mobil yang akan mengantarkannya ke tempat yang dituju sepanjang masih dalam wilayah dalam kota Jakarta, Gratis. Karena kami hendak ke Tangerang kami tidak menggunakan service tersebut. Sambil sedikit menggigil karena suhu pagi yang masih dingin kami menaiki angkot 09 menuju Slipi, dari sana kami naik bus PPD 45 Blok M-Cimone menuju Tangerang. Kami tiba di rumah pukul 06.30, aku langsung merebahkan badan di tempat tidur sedangkan adikku bersiap-siap kembali untuk ke kostannya di Bandung karena harus melanjutkan rutinitas kuliahnya. Selesai.

Informasi Harga Tiket Safari Dharma Raya Yang Baru, Silakan Merujuk Pada Post Berikut:
Rute dan Tarif PO. Safari Dharma Raya 

Lazada Indonesia

3 Responses to "Yogyakarta - Jakarta dengan Bus Safari Dharma Raya Super Executive "

  1. untuk tujuan jakarta tgl 24 juli 2014 masih ada ga,,,,???? Blz BBM 7CE22700

    BalasHapus
    Balasan
    1. silakan ke agen terdekat di kota anda mas

      Hapus
  2. pool obl yang di kebayoran sebelah mananya ya? kalo dari ciledug naik angkot apa aja ? thanks

    BalasHapus